Cerpen | 18 Tangkai Bunga untuk Ibu

Libur panjang telah kulalui, mengakhiri bahwa semester lima tingkat SMA telah berlalu. Kini saatnya aku menginjak semester enam yang sekitar tiga bulan lagi akan menghadapi Ujian Nasional.

NAMAKU Alwi Alfatih orang yang selalu mengeluh dan suka melawan kepada kedua orang tua terutama kepada seorang ibu, hampir setiap hari aku melawan, namun di balik itu aku selalu menyadari bahwa sifat negatifku itu harus aku hilangkan dalam benakku.

“Hai Alwi Alfatih apa kabar?” ujar sahabatku Ari Wibowo sambil berjalan menghampiriku bersama tiga sahabat superku yang lainnya Dimas Aditya, Najwa Safitri, dan Novi Adelia.

“Terima kasih, alhamdulillah seperti yang kalian lihat, beginilah keadaanku, terus kalian gimana?” jawabku kepada sahabat superku semua.

“Ya seperti yang kamu lihat juga,” jawab mereka secara bergantian. “Oke, sekarang kita masuk ke kelas” ujarku. Kami pun berjalan ke kelas Reptil (Rengrengan IPA Tilu), itulah julukan bagi kelas kami. Sesampainya di kelas kami berbincang-bincang soal liburan kemarin.

Tiga minggu sudah aku masuk sekolah pada semester enam ini, namun sikapku yang suka mengeluh dan melawan kepada kedua orang tua belum aku hilangkan, padahal ujian nasional semakin hari semakin dekat.

Aku selalu menyadari bahwa aku harus banyak belajar agar aku bisa mendapatkan nilai yang bagus nantinya dan  aku percaya bahwa doa orang tua itu selalu menjadi kenyataan, apalagi doanya seorang ibu, tapi aku masih belum meminta doa kepada kedua orang tuaku.

 



Aku berpikir terus agar aku bisa mengahadapi Ujian Nasional. “Eh Alwi kenapa lo ngelamun terus?” tanya Najwa, perempuan cantik yang religius dan juara ketiga berturut-turut dari kelas satu sampai kelas tiga semester lima kemarin.

“Engga kok, gak ada apa-apa,” jawabku. “Ah lo, sama sahabat itu harus saling terbuka, tau!”

“Oke, nanti gua akan cerita, tapi nanti pulang sekolah.”

“Oke itu baru sahabat….!”

Teng.. teng.. teng… bel pulang sekolah sudah terdengar. “Ayo sekarang sudah pulang, lo janji akan cerita masalah lo!” Najwa menagih janjiku.

“Oke, tapi gak di sini, di rumah lo..!”

“Ya elah, lo yang punya masalah, kenapa ceritanya harus di rumah gua?” Najwa heran.

“Ya udah kalau gak mau.”

“Oke terserah lo aja Alwi!”

“Oke, ajak sahabat kita yang lainnya,” akhirnya Najwa memanggil tiga sahabatku yang lainnya. Kami pun langsung on the way ke rumah Najwa yang jaraknya kurang lebih lima kilometer dari sekolah.

 

Tak terasa, perjalanan lima kilometer sudah dilalui, kami pun sampai di rumah Najwa.

“Tunggu gua buatkan minum dulu untuk kalian,” ujar Najwa sambil berjalan ke dapur. Minuman pun dating. “Alwi lo tuh punya masalah apa sih? Kok harus di rumah Najwa, kenapa gak di sekolah aja?” tanya  Ari sambil memegang minumannya.

“Iya ada apa sih?” timpal Novi.

“Oke, gini, gua tuh ingin memperbaiki diri gua, kalian semua tau kan kalau gua belajar belum pernah benar, dan gua sering mengeluh kalau ada pelajaran yang gak gua ngerti. Dan asal kalian tau gua tuh selalu melawan kedua orang tua gua, terutama ibu gua. Nah semua itu gua ingin hilangkan,” jelasku panjang lebar.

“Kirain ada apa, kenapa meski di sini sih? Padahal cerita itu bisa di sekolah kan?” tanya Ari yang kedua kalinya, namun aku mengabaikannya.

“Udah gimana nih solusinya?” tanyaku.

“Ya udah gini aja, lo tinggal belajar yang serius aja, bersemangat intinya, karena gua pernah dengar sebuah kata yang begitu menginspirasi gua. Memang semangat tidak begitu menjamin kita bisa menjadi orang yang sukses, tapi tak ada orang yang sukses tanpa semangat. Salah satunya itu,” ujar Najwa.

“Iya itu bener,” ujar Novi.

“Oke deh, gua akan coba, terus gua tuh ingin gak ngelawan lagi kepada kedua orang tua gua,” janjiku.

“Ya sama kaya tadi, lo harus berusaha untuk tidak melawan kepada orang tua lo,” saran Dimas sang anak yang manja.

“Itu masalahnya, gua tu gak bisa kalau gua ada di rumah.”

“Kalau gitu lo tinggal pergi aja dari rumah, gampang kan?”

“Oh iya, tapi gua pergi ke mana?”

“Gimana kalau lo tinggal di kosan orang tua gua aja, kebetulan ada kamar yang kosong satu,” Ari sang anak juragan kosan menimpali. Aku setuju, dan aku memutuskan akan segera ngekos di rumah kosan Ari, dan ketika kuceritakan kepada ortuku lengkap dengan alasannya, alhamdulillah ortu setuju.

 

Share ya : )

Menurut kamu?

Email kamu tidak akan disebarkan. Tanda bintang wajib diisi *