Cerpen Pendek | Sang Superstar

Hari ini matahari mamancarkan sinarnya. Aku pun melangkah keluar dari rumah sederhana, dengan tas gendongku yang selalu setia menemaniku untuk berlatih sepak bola.

 

LANGKAH demi langkah membawaku melewati sela-sela gang kecil rumah, angkutan kota yang senantiasa menjadi transportasi sehari-hari membawaku ke stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Hari ini dilaksanakannya final turnamen sepak bola se-Jawa Barat.

Jauh-jauh hari aku bersama rekan-rekan seperjuanganku telah berlatih menyiapkan pertandingan final ini. Hari demi hari kami berlatih dengan sungguh-sungguh, lelah, letih, jenuh, memang itulah rasanya. Tapi, hanya kata-kata “menjadi seorang pemenang itu harus dengan kerja keras, bukan hanya diam dan mengkhayal.” itulah hal yang sering diucapkan coach Abek untuk menyemangati kami semua.

Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB saat aku sampai di sana, lalu aku bergegas menuju base pemain bersama rekan-rekan se-timku. “Assalammualaikum, maaf coach saya terlambat,” ujarku memasuki base pemain, “waalaikumsalam.” Serentak seisi base menjawabnya.

Sambil berganti pakaian, coach Abek pun mengintruksikan strategi yang akan digunakan untuk menghadapi kesebelasan UNI Bandung pada partai final ini. Dan sesaat sebelum mengakhiri intruksinya, coach Abek berkata “jangan memikirkan skor, yang penting bermain sungguh-sungguh dan cetak gol sebanyak mungkin.”

“Dan inilah line up dari kedua tim, dari UNI Bandung, Nico nomer punggung 1, Dudung No. Pu 3, Ujang No. Pu 5, Didi No. Pu 15, Laly No. Pu 16, Usman No. Pu 8, Tristan No. Pu 21, Firman No. Pu 14, Betrin No. Pu 23, Angga No. Pu 11, dan Putra No. Pu 10. Lalu line up dari tim Mandala adalah Rouf No. Pu 35, Dede Gagan No. Pu 4, Eka No. Pu 17, Tapip N. Pu 3, Uba No. Pu 2, Suhendi No. Pu 8, Sopiandi No. Pu 6, Jana No. Pu 18, Ohenk N.o Pu 23, Isan No. Pu 15, dan yang terakhir Amay No. Pu 10,” ucap komentator sesaat kedua tim masuk lapangan.

“Priiiiittt…..!!” terdengar suara peluit kick off pertanda dimulainya pertandingan. Aku pun duduk sedikit tegang di bangku cadangan sembari melihat ke arah lapangan. Memang ragaku tak bermain di lapangan, tetapi hati dan semangatku bersatu bersama ke-11 patriot Mandala.

***

“Baaaaaammmm…….!” gol dari pemain UNI Bandung memecahkan keheningan seluruh isi stadion. “Ayoo….. ayoo… balas aja, jangan dipikirkan balas saja,” teriak coach Abek menyemangati semua pemain.

“Coba saja aku yang berdiri di bawah mistar sana, pasti tidak akan kebobolan,” gertakku dalam hati. Memang aku sedikit kesal dengan posisi aku saat ini yang dari dimulainya turnamen sampai partai final ini belum pernah bermain sekalipun. Tapi, aku tetap tabah karena aku yakin Allah akan mengubah nasib seseorang apabila seseorang itu berjuang dengan sungguh-sungguh.

“Priiiitt priiittt…….!” babak pertama selesai dengan skor 1-0 untuk kemenangan UNI Bandung. Sepuluh menit waktu yang diberikan wasit cukup untuk melepas sedikit ketegangan dalam babak pertama. Coach Abek pun mengubah strategi. Aku dan semua pemain cadangan akhirnya menginjakkan kaki juga di lapangan walaupun hanya sekedar untuk bermain kucing-kucingan.

“Prit…..! Prit…..!” Tak terasa babak kedua pun akan segera dimulai. Pemain Mandala pun memanjatkan doa terlebih dahulu sebelum memulai pertandingan babak kedua. Dengan muka sedikit lebih agak santai,  mereka melangkah kembali menuju posisinya masing-masing. “Prriiiittt……!” Wasit meniup peluit, pertanda babak kedua dimulai.

“Yaa tim Mandala mulai menyusun penyerangan, bola di kaki Jana, Jana mengoper ke Sopiandi, bola digiring Sopiandi ke pertahanan sebelah kiri tim UNI, diumpan lambung sajaa…. dan ooohhh ternyata bola bisa diamankan penjaga gawang UNI…..!” Seru komentator. Kali ini keresahan tergambarkan pada wajah coach Abek, karena sampai saat ini tim kami belum bisa membalas gol.

Serangan demi serangan yang tim Mandala lancarkan belum berbuahkan hasil. Waktu pun tak terasa tinggal 20 menit lagi. Aku pun hanya bisa tertunduk lesu sambil berdoa berharap tim kami bisa membalas gol. “Prrrriiiiittttt……!” tiba-tiba suara peluit memecahkan lamunanku, ternyata petaka bagi tim kami, Rouf penjaga gawang tim kami melanggar stiker UNI, Angga di dalam kotak penalti.

Oohh….. wasit tanpa pikir panjang memberikan kartu merah bagi Rouf. Hari ini seakan-akan dunia tidak memihak kepada tim Mandala. Sesaat semua pemain Mandala berhenti bernafas tak percaya melihat apa yang terjadi. Protes keras yang dilakukan kapten Mandala, Suhendi pun hanya menghasilkan kartu kuning untuknya.

“Rey, cepat pemanasan!” Teriak coach Abek memanggilku. Aku pun bergegas pemanasan singkat, dan coach Abek membisikkan kepadaku sebelum bermain. “Kamu mesti tahan penalti ini, kalo engga tamatlah kita, ayo cepat.” Aku pun hanya mengangguk.”Masuk No. Pu 97 Reyhan, keluar No. Pu 2 Uba,” ucap asisten wasit.

Sebelum memasuki lapangan, aku berdoa, ya Allah, semoga hari ini hari keberuntunganku. “Deg, deg, deg, deg…..” suara detak jantungku yang makin dekat dengan gawang makin kencang, aku pun berdiam sejenak di bawah mistar untuk menenangkan diri dahulu. Dan ternyata si penendang penalti itu adalah Angga, setelah dia meletakkan bola di titik penalti dan bersiap-siap untuk menendang, aku pun mulai memejamkan mata dan memantapkan feeling.

“Prrriiiitt……!” mataku pun mulai terbuka dan feelingku mengatakan bola akan ke kiri, shhoooottt……. bola ditendang dengan terarah oleh Angga tepat ke arah yang telah aku perkirakan, dan bbbaaaammm bolanya pun tertepis oleh jariku, akan tetapi bola menyentuh tiang gawang dan fyuuuuuhhh…. bolanya keluar lapangan. “Alhamdulillah….” itulah kalimat pertama yang aku ucapkan saat itu.

Pertandingan pun berlanjut, serangan demi serangan dilancarkan tim Mandala tetapi masih juga belum bisa menembus pertahanan kuat UNI. Tak terasa, wasit cadangan sudah memberikan tambahan waktu 2 menit. “Dan apakah ini serangan terakhir dari Mandalakah, ya bola digiring oleh Suhendi, dioperkan kepada Jana, dan Jana ooh… melewati satu, dua pemain UNI. Satu dua dia dengan Ohenk, dan ahaaaaaayyy….. Jana melepaskan tendangan dari luar kotak penalti, dan uuuhhh,  ternyata bola bisa ditepis kiper UNI yang hanya menghasilkan tendangan pojok,” ucap komentator.

“Reeeyyy maju, Rey maju…. !” Teriak coach Abek dari pinggir lapangan. Aku pun segera berlari ke depan dan mencari posisi yang pas untuk mendapatkan bola dan bisa mencetak gol. Ssseeeerrrr…… tendangan pun dilancarkan Sopiandi yang ternyata mengarah ke Dede Gagan. Dede Gagan pun menyundulnya dengan keras dan aaaahh…. Sialan, bolanya masih bisa ditepis kiper. Tapi ternyata bola nya mengarah kepadaku dan tanpa pikir panjang aku tendang dengan sekuat tenaga dan “gooooooolllllll……..!!!!!” seraya seisi stadion memecah kesunyian, mereka sesaat tak percaya akan apa yang terjadi. Aku pun berlari sekencang mungkin ke arah coach Abek, lalu loncat ke arahnya dan memeluknya dengan tangisan kegembiraan.

Selebrasi kemenangan tak berlangsung lama, permainan pun dilanjutkan. Ya sekarang giliran kesebelasan UNI yang mulai menyerang, umpan lambung dari sisi penyerangan UNI, tetapi ternyata bolanya lebih mengarah kepadaku dan mudah ditangkap. Tanpa lama memegang bola, langsung saja kukirimkan umpan lambung kepada Amay yang sudah berdiri bebas di depan sana.

Amay mengontrolnya dengan sempurna, digiringnya si kulit bundar ke arah gawang yang hanya tinggal menyisakan dua pemain bertahan UNI. Waktu tinggal 30 detik lagi, dengan mudahnya Amay melewati dua pemain bertahan tersebut dan ahaaaaayy ……ditendangnya bola tersebut ke arah pojok atas kanan gawang yang tak terjangkau oleh kiper dan “goooooolllll……!” kembali tim kami bisa membalikan keadaan.

Sorak sorak penonton pun terdengar kembali diiringi  peluit tanda berakhirnya pertandingan dengan skore 2-1 untuk tim Mandala. “Alhamdulillah…..” kami semua bersujud syukur di tengah lapangan. Itulah hal yang pertama aku lakukan saat mendengar peluit akhir pertandingan. Air mata kemenangan dan senyum kegembiraan pun tergambar pada wajah semua pemain, coach, dan manager Mandala. Akhirnya kami tim kesebelasan Mandala bisa menjadi Juara 1 turnamen sepak bola se-Jawa Barat. “Alhamdulillah….., istimewa…!!

 

 

 

Share ya : )

Menurut kamu?

Email kamu tidak akan disebarkan. Tanda bintang wajib diisi *