Cerpen Singkat | Anjani, Senja dari Negeri Awan

San, saya sudah sampai di stasiun…

Tepat ketika fajar mulai merekah dan embun masih terlihat bening, Anjani sampai di stasiun Kota Lama, Malang. Kota yang menjadi impiannya berpetualang.Tidak banyak tingkah. Anjani terus berjalan dan menunggu balasan dari Susan, sahabatnya sewaktu kecil yang kini tinggal di Jalan Kebalen Wetan, Kota Lama, Malang. Hingga sampai di pintu depan, Anjani tidak menerima pesan atau telepon dari Susan.

Perjalanannya dari luar provinsi cukup melelahkan. Apalagi Anjani Sendiri dan makanan yang dibawanya sedikit.

Kakinya melangkah ke arah kanan menuju kursi hijau. Terdapat jajanan khas Malang. Namun, Anjani hanya melirik sebentar. Anjani tahu, sebagai anak rantau, ia harus meminimalisir pengeluaran isi saku. Anjani sadar, uang yang dibawa dan yang diberi orang tuanya pas-pasan, hanya untuk biaya transportasi. Selebihnya Anjani harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.

 

“Jan, maaf yaa,,, aku harus nganter ibu dulu ke pasar. Please jangan marah… satu jam lagi aku nyampe di sana,” jelas Susan via telepon.

“Okeh, santai aja San. Lagian saya juga lagi keliling stasiun,”

“Tapi kamu gak nyasar, kan?”

“Enggaklah,,,”

“Syukurlah, yah maafin yaa,,, aku buru-buru,” perbincangan pun selesai.

 

Anjani berdiri, berjalan ke arah kanan yang sepertinya ada bazar. Anjani hanya melihat keramaian itu, hatinya bergumam, “Andai ada uang lebih, pasti tas kecil anyaman merah yang diskon 50% itu sudah menjadi milik saya.”

Langkah kakinya terus berpindah mendekati bazar peralatan hiking. Anjani tersenyum dan menggeleng kepala, mengingat uangnya tidak boleh dihambur-hambur. Masih di keramaian bazar depan stasiun. Anjani duduk dan minum, lalu membuka handphone dan memotret secara diam-diam. Bukan selfie, Anjani mengambil gambar bazar peralatan hiking itu dengan kamera handphonenya, tersenyum dan mengangkat alis kirinya.

 

“Assalamua’alaikum,,,”

Anjani mendengar salam pemuda yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Anjani menjawab salamnya dan melihat sepatu pemuda itu.

“Hei,,, wajahnya di sini. Bukan di kaki,”

“Bang Bilal? Ngapain di sini?” tanya Anjani terkejut saat melihat wajahnya.

Anjani mengenal Bilal empat tahun yang lalu, seorang pendaki yang sudah menggapai puncak-puncak tertinggi ibu pertiwi. Anjani tidak pernah bertemu langsung, selama empat tahun itu Anjani mengenal baik Bilal dari sosmed dan teman serta kerabatnya. Sosok pemuda yang ramah, baik, dan tidak diragukan lagi ketaatannya kepada Pemilik Hati.

 

“Sekarang siap-siap. Udah dhuhur nanti kita berangkat!” ucap Bilal mengagetkan Anjani.

“Kemana?”

“Emangnya Susan belum cerita?”

Tanpa kata dan rasa penasaran, Anjani terdiam, begitu pun Bilal. Sejenak waktu seakan terhenti, dan Susan pun datang diantar pamannya. Keduanya berpelukan dengan rasa gembira. Wajar saja, 10 tahun berlalu dan akhirnya Anjani bertemu Susan lagi.

 

“Maksudnya apa San? Kamu kenal sama Bang Bilal?”

“Bang Bilal itu kakak aku Jan. Kami baru ketemu tujuh tahun yang lalu. 10 tahun kebelakang aku pernah bilang, kan? Aku pergi untuk mencari kakak kandungku.”

“Saya ingat, terus sekarang gimana? Kayaknya kalian mau hiking,”

“Tidak hanya aku dan Bang Bilal. Tapi kita!” jawab Susan mengejutkan Anjani.

Nafas pun terhembus dari mulut Anjani yang memakan permen karet, duduk, dan berkata, “San, saya ke sini untuk ketemu kamu, keluargamu, dan mencari pekerjaan, lalu kuliah di kota ini. Nanjak ke Semeru adalah jadwal saya tahun depan.”

 

“Aku mengerti Anjani. Tapi ini adalah kado ulang tahunmu dari kami. Aku udah tau semuanya tentang kedekatan kamu dan Bang Bilal… Semuanya aku tau! Sekarang,,, kopermu titip ke paman. Semua alat hiking, simaksi, dan keperluan lainya sudah siap.”

Wajah Anjani terlihat tegang, tidak percaya rencana dan jadwanya berubah total. Tidak disangka, ternyata kebaikan Bilal dan Susan benar-benar nyata, fakta, dan ini adalah kado terindahnya diusia 20 tahun.

 

Fajar yang telah membawa Anjani menghentakkan kaki di kota apel itu, dan sinar fajar pula yang akan membawanya pada senja di samping atap pulau jawa.

“Anjaniasastra Aliya,” sahut Bilal yang sedang memakai sepatu di teras masjid. “Semangat!!!” ucap Bilal tersenyum lebar saat menggendong carrier dan bersiap berjalan menaiki Jeep menuju puncak para dewa, Mahameru.

 

Tia Mutiara (XII IPA 1 MAN 1 Cianjur)

 

Yuk pilih & baca kumpulan cerpen singkat ismabulletin di link ini

Share ya : )

Leave a Reply