Cerpen | Zahra Di Langit Senja

Kita duduk berdua di sini.. memandangi langit yang sama, menikmati desiran ombak yang merdu berirama, menikmati semilir angin yang menghembus mesra. Terkadang, angin itu mengganggu kerudung hijau yang kau kenakan. Menyela di antara canda dan tawa. Kasih… aku merindukan itu semua.

 

PAGI menjelang. Sinar matahari tiba menyemburat di balik bukit, menyelusup masuk celah-celah jendela yang masih tertutup gorden. Aku pun terjaga, membuyarkan mimpiku bersamamu. Mimpi itu, mimpi yang selalu sama, di tempat yang sama, di langit yang sama, di hamparan pasir yang sama, dan di pantai yang sama.

 

Kasih.. aku bingung, bahkan selalu bingung. Kau selalu hadir dalam mimpiku, memainkan jari-jemarimu di atas tumpukan pasir. Kau tersenyum melihat langit favoritmu, dan kau mengatakan suatu hal mengenai benda favoritmu. Tapi sayang, mimpi itu berakhir sudah. Kasih.. maafkan aku  yang tak bisa menjaga senyummu bersinar lebih lama..

Memoriku mengingatkanku pada kenangan terakhir kita..

“Andai saja, kita bisa menikmati langit ini lebih lama lagi.. Andai saja, kita bisa melakukan hal-hal yang luar biasa bersama-sama. Selamanya..” ucapmu lirih sore itu.

“Kita akan melakukannya bersama-sama, di kolong langit yang sama. Selamanya.. aku janji,” jawabku menghiburmu.

“Jangan membuat janji yang tak mungkin bisa kau tepati, Indra..”ucapmu saat itu,  seraya tersenyum sambil merapikan kerudung yang perlahan tertiup angin.

 

Aku hanya diam, memperhatikan senyummu yang mungkin itulah senyum terakhir yang bisa aku lihat. Senyum terakhir yang aku dan pantai ini saksikan. Kasih.. hingga saat ini aku masih merindukan senyum manismu itu, hingga saat ini pula aku tak bisa menghapus semua tentangmu.



Lamunanku terpecah. HP-ku bergetar menandakan ada pesan masuk. Bella, yups, dialah kekasihku saat ini. Dia memintaku agar mengantarnya ke suatu tempat.

“Ada apa?” tanyaku polos saat kita beranjak menuju tempat yang entah ke mana tujuannya.

“Indra.. aku mau kita akhiri semuanya sampai di sini. Aku tidak bisa hidup dengan seseorang yang terus menerus dikekang oleh masa lalunya. Aku tahu,Ndra. Aku tahu. Kamu tersiksa dengan kepergian Zahra yang begitu cepat. Zahra yang kamu sayangi. Tapi Ndra, bisakah kamu sedikit saja membuat aku nyaman di sisimu? Tak memikirkan masa lalu? Bisakah kamu memberikan aku kesempatan untuk membuat hidupmu lebih berwarna? Sama seperti Zahra yang membuat hidupmu lebih berwarna…”ucap Bella sambil menitikkan air mata, lalu menghapusnya kasar.

Ia berusaha tegar tehadap sikapku yang selama ini dingin padanya. Bella adalah gadis yang baik, tapi tetap saja sebaik apa pun dia, tak ada yang melebihi kebaikan kekasihku Zahra.

 

“Aku tahu Bella, aku tahu. Maafkan aku atas semua sikapku padamu. Aku memang menyayangimu. Tapi aku merasa, tak ada yang bisa melebihi rasa sayangku pada Zahra. Aku harap kau mengerti,” ucapku yang kembali terdiam.

“Tak apa, Ndra. Mungkin ini takdirku. Terima kasih sudah memberi aku kesempatan untuk berada di sampingmu, walau tak bisa mengubah pendirianmu..”jawab Bella sambil berlalu meninggalkanku sendiri.

 

Aku terdiam membisu. Memikirkan apa yang telah aku lakukan. Membiarkan seseorang yang jelas-jelas menyayangiku pergi begitu saja.

Aku berjalan dan terus berjalan, tak kusadari ternyata Bella menuntunku menuju pantai. Aku berjalan menyusuri hamparan pasir putih dengan perasaan hati yang tak karuan. Masih terbayang bayanganmu yang sedang berlari-lari kecil, merapikan kerudung hijau favoritmu. Tanpa pernah merasakan sakit yang kau derita. Ahh kasihku Zahra, kenapa kau pergi begitu cepat? Tinggalkan semua kisah kita?

Aku jatuh terduduk di atas pasir putih, terbayang wajah pucatmu yang terbaring lemah di atas ranjang biru. Kau meronta-ronta kesakitan. Aku tahu, kasih. Aku tahu. Kau membutuhkanku untuk berada di sampingmu. Tapi apa daya, aku hanya bisa menyaksikan semua itu di balik jendela.

Aku hanya bisa menyaksikan semuanya berlalu. Aku hanya bisa menangis kala itu terjadi. Aku hanya bisa menyaksikan jarum-jarum menusuk tajam kulitmu. Ditambah lagi dengan obat kimia yang dimasukkan lewat selang infus. Dan… aku hanya bisa menyaksikan mereka menutup wajah serta sekujur tubuhmu dengan kain putih. Kanker darah yang kau alami,  telah merenggutmu dari sisi hidupku.

 

Tak bisa kutahan lagi pilu yang menyesakkan dada. Aku terisak-isak sambil memukul-mukul hamparan pasir. Kenapa Allah tega mengambil seseorang yang aku cintai secepat ini? Seseorang yang sangat aku sayangi bahkan aku dan Zahra akan menikah bulan ini. Tapi kenapa ya Allah.. kenapa kau pisahkan kami seminggu sebelum pernikahan itu terjadi?

 

Waktu pun terus bergulir. Kini langit jingga menyelimuti. Aku lalu bangkit, kembali menyusuri pantai. Air mata kembali mengalir, saat aku melihat tempat favorit Zahra menikmati matahari tenggelam.

 

Pohon kelapa yang menjulang tinggi, dihiasi ukiran nama kita berdua. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, kukeluarkan semua pilu yang lagi-lagi datang. Aku menangis sejadi-jadinya.  Aku menendang sembarang dan buuuukkkkk… tendanganku mengenai sesuatu. Suatu benda yang tak asing bagiku. Buku Diary Zahra!

Share ya : )

Menurut kamu?

Email kamu tidak akan disebarkan. Tanda bintang wajib diisi *