Mengenal 3 Jenis De Javu

PERNAHKAH kalian mengalami keadaan atau kejadian yang sebelumnya pernah terjadi? Atau merasa kalau mimpi kalian menjadi kenyataan? Atau merasa telah bertemu dengan orang yang baru kalian kenal sebelumnya? Mungkin kalian berkata dalam hati “Kayanya pernah ketemu orang ini deh, tapi di mana? Sepertinya aku pernah ke sini tapi kapan dan dengan siapa?” atau “Kayanya aku pernah mengalami kejadian ini.”

Bila kalian pernah mengalaminya,  itu hal yang wajar karena hampir seluruh manusia di bumi mengalami fenomena ini yang disebut De Javu. Menurut wikipedia, Déjà vu adalah sebuah frasa Perancis yang artinya “pernah melihat” atau “pernah merasa”. Maksudnya yakni mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Menurut sekelompok orang feomena dejavu terjadi karena gangguan sel-sel otak tapi sekelompok lain beranggapan bahwa dejavu berhubungan dengan kejadian lain pada masa lalu.

 

Secara sadar terkadang kita berada pada situasi yang bisa ditebak apa yang akan terjadi berikutnya. Kita seakan pernah mengalami betul situasi itu pada masa lampau. Itulah fenomena dejavu. Saat kita berada di tempat yang baru dikunjungi, tiba-tiba kita merasa pernah mengalami hal serupa di tempat itu.



Menurut penelitian, 70% manusia di bumi pernah mengalami dejavu. Menurut Prof. Ahmad Syauqi Ibrahim, ketika tidur ruh akan bergerak meninggalkan tubuh. Walau demikian, ruh masih tetap berhubungan dengan tubuh. Ruh kemudian akan bergerak menuju alam ruh. Aktivitas inilah yang kemudian dikaitkan menjadi penyebab deja vu. Faktor lain bahwa beberapa peneliti menghubungkan dejavu dengan kelainan penyakit seperti schizophrenia, kegelisahan atau gangguan neurologi lainnya.

Dugaan lain bahwa sebelah mata kita melihat sesuatu sebelum mata yang lain. Setelah itu mata yang lain melihat hal yang sama beberapa milidetik kemudian yang membuat otak merasakan pernah mengalami hal serupa namun peristiwa itu tidak bisa dijadikan faktor mutlak mengenai de javu.

Fenomena De Javu ada beberapa jenis.

 

  1. Déjà Vécu yakni perasaan yang lebih kuat dari Déjà Vu. Kalau Déjà Vu kita merasa sudah pernah melihat kejadian sebelumnya, tapi dalam Déjà Vécu kita akan mengetahui peristiwa tersebut jauh lebih detail, seperti mengingat bau dan suara-suara pada kejadian tersebut.

 

  1. Déjà Visité adalah perasaan yang tidak biasa ketika kita merasa mengenal suatu tempat padahal sebelumnya kita tidak pernah mengunjungi tempat tersebut. Kalau Déjà vu berhubungan dengan peristiwa, sedangkan Déjà Visité berkaitan dengan tempat atau geografi. Seperti mengenal secara detail tata letak tempat tersebut.

 

  1. Déjà Senti adalah fenomena “pernah merasakan” sesuatu. Kejadiannya seperti ini: “Kamu merasa pernah mengatakan sesuatu, di pikiran kamu mengatakan, “Oh iya aku ngerti!” atau “Oh iya aku ingat!” tapi satu atau dua menit kemudian kamu akan sadar kalau kamu sebenarnya tidak pernah mengatakan apa-apa”.

 

Dalam teorinya, Albert Einstein menyebutkan bahwa tidak akan mungkin ada suatu materi di dunia ini yang mampu melebihi kecepatan dari cahaya. Kalaupun ada, Einstein menjelaskan, materi tersebut akan lepas dari ikatan ruang dan waktu. Materi tersebut menjadi bebas. Termasuk bebas dari ikatan hari. Dia bisa saja ada pada hari kemarin, pada beberapa menit yang lalu, atau bisa juga pada masa depan. Mungkin pemikiran inilah yang mendorong lahirnya ide untuk menciptakan mesin waktu.

 

Via Fitriani Nuryadin

Ahmad Syauqi meyakini ruh manusia memiliki kemampuan seperti itu. Ruh memiliki kemampuan layaknya cahaya, atau bahkan mungkin lebih cepat dari cahaya. Hal tersebut dimungkinkan karena ruh memiliki potensi energi cahaya. Potensi itu salah satunya dibuktikan sekarang ini sebagai aura tubuh. Aura adalah cahaya yang terlihat melingkari tubuh manusia. Cahaya ini berbeda dengan sinar yang memancar dari manusia akibat panas tubuh. Lingkaran cahaya ini dapat menebal atau menipis, tergantung keadaan psikis orang tersebut.

Jadi mengenai De Javu sampai saat ini masih menjadi misteri incaran para peneliti khususnya di bidang sains. Wallahualam. Yang pasti fenomena ini erat kaitannya dengan alam bawah sadar.

(Via Fitriani Nuryadin, MAN Cianjur)

Share ya : )

Menurut kamu?

Email kamu tidak akan disebarkan. Tanda bintang wajib diisi *