1 jam yang sederhana

Satu Jam Yang Sederhana

Share ya : )

Satu jam memang sederhana, tetapi sangat mungkin akan berarti bagi perjalanan hidup kita semua. Luar biasa!

 

PADA suatu hari, seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya dengan polosnya, “Apakah kita bisa hidup dengan tidak berdosa selama hidup kita, Ayah…?” Sang Ayah memandang putrinya, kemudian berkata, “Tidak mungkin, Nak…”

 

Putrinya kemudian bertanya lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun…?” Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putri kesayangannya ini.

 

“Ooh Ayah, bagaimana kalau dalam sebulan kita belajar hidup tanpa melakukan kesalahan…?” Ayahnya tertawa. “Mungkin tidak bisa juga ya, Nak.”

“Oke Ayah, ini yang terakhir kali. Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama satu  jam saja…?” Akhirnya ayahnya mengangguk. “Kemungkinan besar bisa ya Nak….”

 

Anak ini tersenyum lega. “Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, Ayah. Kelihatannya akan lebih mudah menjaga dan menjalaninya.”

 

Dialog seorang ayah dan putrinya itu memberikan pelajaran yang luar biasa kepada kita. Oleh karena itu,  mari kita mencoba mempertahankan cara kita menjalani hidup ini, dari waktu ke waktu. Mencoba “hidup benar” dari waktu ke waktu, dengan latihan yang paling kecil dan sederhana. Apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat dan sifat akan menjadi karakter.

 

Mencoba hidup satu jam tanpa menjelek-jelekkan orang lain, kesombongan, kebohongan, dll. Lalu coba ulangi lagi untuk satu jam berikutnya. Mencoba hidup satu jam dengan kasih sayang kepada sesama, kesabaran, kemurahan hati, kerendahan hati, dan ketulusan. Lalu coba ulangi lagi untuk satu jam berikutnya.

 

Satu jam memang sederhana, tetapi sangat mungkin akan berarti bagi perjalanan hidup kita semua. Luar biasa! Selamat mencoba…! ***

 

Kapan dan di Mana Aku Terhenti?

 

KETIKA manusia merasa rapuh, entah jalan mana yang harus diambil. Sebuah kegagalan yang menyebabkan terlukisnya linangan air mata membuat jiwa sadar bahwa hidup bukan sekedar tertawa agar kita tahu mahalnya air mata dan bukan untuk selamanya bersedih agar tahu beratnya merekahkan kebahagiaan.

 

Belajar pada sebuah pengalaman hidup, manusia semakin bertumbuh-kembang menuju dewasa. Ia mendewasakan diri dengan cara dan langkah yang ia ambil. Sejauh apa pun melangkah, tetaplah goresan kenangan telah menjadi catatan hidup yang menjadi asal mula terjadinya masa depan.

 

Terkadang waktu egois, telah tahu diri terjepit tapi bertubi-tubi kehidupan memberi perih tanpa jeda, sudah tahu hidupnya penuh bunga malah ia tambah dengan parfum, ironi memang. Kehidupan tak pernah mau mundur sedikit pun, meski terkadang egois tapi pengalaman itu yang membuat kami mendewasakan diri, berkutat dengan berbagai soal yang justru bukan bermaksud mengerdilkan diri.

 

Aku bilang, “pengalaman itu guru yang menyakitkan, karena mengajarkan dulu kepahitan..” namun dari situlah kami berpijak dengan penuh keyakinan bahwa perih yang dibangun akan membuahkan wangi. Kapan dan di mana kami terhenti? Sekarang tak penting lagi, aku hanya dapat menjalani sisa-sisa kehidupan.

(Bambang Plasmana S., MAN Cianjur)

Tags: No tags

Menurut kamu?

Email kamu tidak akan disebarkan. Tanda bintang wajib diisi *